Selasa, 10 Januari 2012

SELAMAT TAHUN BARU

Selamat Tahun Baru

Kawan,
sudah tahun baru lagi.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk,
memandang diri sendiri.
Bercermin firman Tuhan,
sebelum kita dihisabnya.
Kawan,
siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah? Mu’minin? Muttaqin?
Khalifah Allah?
Umat Muhammadkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin?
Iman kita kepada-Nya dan yang ghaib,
rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan,
lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun,
kita khusyuk didepan manusia
dan tiba-tiba buas dan binal
justru disaat sendiri bersamanya.
Syahadat kita
rasanya lseperti perut beduk
atau pernyataan setia pegawai rendah saja.
Kosong tak berdaya.
Shalat kita,
rasanya tak lebih baik daripada senam ibu-ibu,
lebih cepat daripada menghirup kopi panas,
dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda
Doa kita setelahnya,
justru lebih serius.
Kita mengharapkan hidup enak dan bahagia di sorga.
Puasa kita,
rasanya hanya mengubah jadwal makan, minum dan saat istirahat.
Tanpa menggeser acara untuk syahwat.
Ketika datang lapar dan haus,
kita pun manggut-manggut.
Oh, beginikah rasanya.
Dan kita sudah merasa memikirkan saudara kita yang melarat.
Zakat kita,
rasanya jauh lebih dari berat, terasa.
Dibanding tukan becak melepas penghasilannya,
untuk kupon undian yang sia-sia.
Kalau pun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran.
Upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.
Haji kita,
tak ubah tamasya menghibur diri,
mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar.
Lalu pulang membawa label suci, asli Saudi, HAJI.
Kawan!
Lalu bagaimana, bilamana, dan berapa lama kita bersamanya?
Atau kita justru sibuk,
menjalankan tugas mengatur bumi dan seisinya.
Mensiasati dunia sebagai khakifah-Nya.
Kawan!
Tak terasa memang kita semakin pintar.
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah,
mempercepat proses kematangan kita.
Paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Memperkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan.
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran.
Melacur dan menipu demi keselamatan.
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan.
Memukul dan mencaci demi pendidikan.
Berbuat semaunya demi kemerdekaan.
Tak berbuat apa-apa demi ketentraman.
Membiarkan kemungkaran demi perdamaian.
Pendek kata,
demi semua yang baik,
khalal-lah semua sampaipun yang paling tidak baik.
Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para muballigh dan kyai?
Penyambung lidah Nabi.
Jangan ganggu mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya.
Para seniman sedang merenungkan apa saja.
Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana.
Para kyai sedang sibuk berfatwa dan berdoa.
Para pemimpin sedang mengatur semuanya.
Biarkan mereka diatas sana
meratapi dan menikmati nasib dan persoalan mereka sendiri.
Kawan,
selamat tahun baru.
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk,
memandang diri sendiri.

GUS MUS

AKU HARUS BAGAIMANA

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggil-Nya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)